Cuaca ekstrem kering yang ditandai fenomena embun beku yang parah di kawasan pegunungan Lanny Jaya, Papua, bakal bertahan sepanjang Agustus ini.

Di kawasan timur Papua seperti Kuyawage, kondisi kering bahkan kemungkinan dapat berlanjut hingga September.

“Kalau di wilayah pegunungan Lanny Jaya terdapat potensi musim basah pada September 2022,” kata peneliti klimatologi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, dalam keterangan tertulis yang dibagikannya, Kamis 11 Agustus 2022.

Dia memaparkan fenomena embun beku, atau di wilayah lain dikenal sebagai embun upas, di Papua saat ini lebih disebabkan oleh faktor lokal yang menguat.

Erma membandingkannya dengan faktor pengaruh anomali angin monsun timuran dari Australia.

Data cuaca dari Bandara Sentani, Papua, yang dikirim ke Badan Meteorologi Dunia WMO menunjukkan suhu maksimum harian di wilayah itu mencapai lebih dari 34 derajat Celcius.

Suhu minimum berkisar 22-23 derajat Celcius, dan temperatur titik embun rata-rata 21-22 derajat Celcius.

Kondisi itu bertahan secara menerus selama lima hari sejak 24-28 Juli 2022.

Suhu maksimum itu, Erma menjelaskan, tertinggi selama Juli dan melebihi kondisi normalnya.

Kondisi serupa pernah terjadi pada Juli 2020.

“Tendensi terjadinya peningkatan suhu maksimum dan penurunan suhu minimum harian ini disertai kelembapan udara yang rendah, yaitu kurang dari 77 persen yang membuktikan udara cenderung kering di wilayah Papua,” katanya menuturkan.

Kondisi itu, menurut Erma, diperparah oleh ketiadaan awan di atas wilayah Indonesia karena dampak dari pembentukan bibit siklon tropis di Belahan Bumi Utara beberapa waktu lalu dan akan berlanjut selama Agustus 2022.

Peneliti Agro-klimatologi Aris Pramudia mengatakan, kondisi itu jelas berpengaruh terhadap pertanian.

Dia menjelaskan, di wilayah pegunungan biasanya ditanami pohon seperti teh, tembakau, ubi jalar, dan sayur-mayur.

Jenis-jenis tanaman itu disebutnya tidak resisten terhadap gejala embun upas.

“Karena daunnya berpotensi mengalami kerusakan jaringan akibat pengerutan dari dampak pembekuan, dan tidak bisa kembali pulih,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang sama.

Untuk mitigasinya, Aris menyarankan, bisa dicoba dengan mengganti jenis tanaman dengan pohon pepaya yang lebih resisten embun beku dan kekeringan, seperti yang ditanam di wilayah pegunungan Dieng, Jawa Tengah.

“Atau, komoditas tanaman lain yang berdaun tebal seperti kaktus, buah naga, nangka, durian, dan sejenisnya.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *